Lompat ke isi utama
Wamena, Papua Pegunungan Senin sampai Jumat, 08.00 hingga 15.00 WIT
Lambang STT Arastamar Wamena
LP2kM Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STT Arastamar Wamena
Beranda / Profil Lembaga / Visi dan Misi

Visi dan Misi

Rumusan visi, misi, dan tujuan LP2kM yang menurunkan visi induk STT Arastamar Wamena.

Visi

Menjadi lembaga penelitian dan pengabdian yang unggul dalam mengembangkan ilmu teologi dan pendidikan Kristen yang kontekstual, serta berdampak nyata bagi transformasi masyarakat Papua Pegunungan.

Misi

  1. Menyelenggarakan penelitian yang bermutu, beretika, dan berakar pada persoalan riil masyarakat Papua Pegunungan, dengan mengedepankan kaidah keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
  2. Menyelenggarakan pengabdian kepada masyarakat yang partisipatif dan berkelanjutan, dengan menempatkan jemaat dan warga kampung sebagai mitra kerja, bukan sekadar penerima bantuan.
  3. Mengelola jurnal ilmiah dan sarana publikasi agar hasil kerja akademik sivitas akademika terbaca luas dan memberi sumbangan pada khazanah keilmuan.
  4. Membangun kemitraan dengan gereja, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat sipil untuk memperluas jangkauan manfaat kegiatan lembaga.
  5. Menumbuhkan budaya meneliti dan menulis di kalangan dosen dan mahasiswa melalui pendampingan, pelatihan, dan sistem penghargaan yang terukur.

Tujuan

  1. Tersedianya rencana induk penelitian dan pengabdian yang menjadi rujukan seluruh kegiatan akademik lembaga.
  2. Meningkatnya jumlah dan mutu penelitian dosen yang terpublikasi pada jurnal bereputasi setiap tahun.
  3. Terwujudnya program pengabdian yang terukur dampaknya bagi mitra sasaran, bukan sekadar terlaksana kegiatannya.
  4. Terkelolanya MEFORASH dan PHRONIMOS secara profesional menuju status terakreditasi nasional.
  5. Tersedianya basis data luaran yang terbuka, mutakhir, dan siap ditelusuri untuk kepentingan akreditasi maupun publik.

Nilai yang dipegang

Seluruh kegiatan lembaga dijalankan di atas empat nilai. Kejujuran ilmiah, yang menolak segala bentuk pemalsuan data dan penjiplakan. Kerendahan hati, yang menempatkan pengetahuan lokal sebagai mitra dialog, bukan objek yang diteliti dari kejauhan. Keberpihakan, yang mengarahkan kerja akademik pada mereka yang paling terpinggirkan. Serta keberlanjutan, yang menuntut setiap program dirancang agar tetap hidup setelah pendampingan berakhir.