Rincian Kegiatan
SelesaiNilai Kristiani dalam Rumah Honai sebagai Warisan Budaya: Ibadah dan Seminar bersama Jemaat Gereja Baptis Pos Pengembangan Hulekama Wamena
| Ketua Pelaksana | Alfred Melkianus Toh |
|---|---|
| Anggota | - |
| Program Studi | Teologi |
| Skema | Kemitraan Gereja |
| Tahun | 2026 |
| Sumber Dana | Mandiri |
| Lokasi Kegiatan | Distrik Wamena Kota, Kab. Jayawijaya |
| Mitra | Jemaat Gereja Baptis Pos Pengembangan Hulekama Wamena |
| Sasaran | Jemaat |
| Luaran | Artikel Di jurnal PkM Phronimos |
| Dana | Rp 200.000 |
Abstrak
Rumah Honai, sebagai hunian tradisional masyarakat Papua Pegunungan, bukan sekadar objek arsitektur melainkan ruang budaya hidup yang sarat nilai kebersamaan, solidaritas, penghormatan kepada sesepuh, dan tanggung jawab komunal. Nilai-nilai ini, yang tertanam dalam struktur fisik dan sosial Honai, beresonasi secara mendalam dengan inti ajaran iman Kristiani kasih, persaudaraan, kerendahan hati, dan akuntabilitas komunal menjadikan Honai sebagai medium yang sangat kuat untuk keterlibatan teologi kontekstual. Di tengah arus globalisasi yang semakin mengikis identitas budaya lokal, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dirancang untuk menegaskan bahwa nilai-nilai Kristiani dan warisan budaya Papua bukan kekuatan yang saling bertentangan, melainkan dapat dipadukan secara harmonis melalui praktik inkulturasi. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 18 Februari 2023, di Gedung Gereja Baptis Pos Pengembangan Hulekama, Wamena, melibatkan 80 peserta yang terdiri dari anggota jemaat dan masyarakat sekitar. Metode yang digunakan adalah ibadah dan seminar terintegrasi bertema 'Nilai Kristiani dalam Rumah Honai sebagai Warisan Budaya,' yang disampaikan oleh Dr. Alfred Melkianus Toh, M.Th. dan Verawati D. Samosir, SE, M.Th. Hasil kegiatan menunjukkan pendalaman pemahaman peserta yang signifikan bahwa rumah Honai menyimpan nilai-nilai Kristiani yang bukan dipaksakan dari luar, tetapi sudah laten dalam warisan budaya komunitas mereka sendiri. Para peserta menegaskan komitmen bahwa gereja dan lembaga pendidikan teologi memiliki peran yang strategis, bahkan profetis, dalam memastikan warisan budaya lokal terpelihara dan bertransformasi dalam terang Injil. Kegiatan ini menegaskan bahwa teologi kontekstual bukan sekadar wacana akademik, tetapi praksis yang tertanam dalam komunitas, memberdayakan jemaat untuk merangkul identitas budayanya sekaligus memperdalam iman kepada Kristus.